Bogor, ElaborasiNews – Upaya memperkuat pendidikan karakter di kalangan pelajar terus digencarkan oleh pemerintah. Salah satu langkah strategis terbaru dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang berkolaborasi dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dalam menyelenggarakan Perkemahan Anak Indonesia Hebat Jenjang SMP Tahun 2025.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, pada Jumat dan Sabtu, 25–26 Juli 2025, di Bumi Perkemahan Pramuka, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sebanyak 302 siswa dari delapan kota/kabupaten di wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta mengikuti kegiatan ini yang menjadi momentum penting bagi kembalinya Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib di satuan pendidikan dasar dan menengah.
Dalam sambutannya saat membuka perkemahan, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa kegiatan kepramukaan adalah salah satu bentuk pendidikan karakter paling efektif.
“Pramuka melatih anak menjadi manusia yang jujur, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan zaman. Kami percaya, pendidikan karakter harus dibangun sejak dini, dan Pramuka adalah salah satu medium yang paling efektif,” ujar Fajar, Jumat (25/7), di hadapan ratusan peserta dan pembina.
Fajar juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025, yang secara resmi menetapkan Pramuka sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib. Kebijakan ini merupakan respon terhadap meningkatnya kebutuhan pembentukan karakter generasi muda di tengah tantangan era digital.
Seluruh rangkaian kegiatan kemah disusun berdasarkan konsep Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Para peserta dilatih untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut melalui aktivitas kelompok, rotasi tugas, diskusi, dan kegiatan sosial di lingkungan sekitar perkemahan.
Dalam sesi dialog interaktif yang berlangsung Jumat sore, Wamen Fajar menggali pemahaman siswa terhadap keterkaitan nilai-nilai Pramuka dengan kebiasaan hidup sehat dan bertanggung jawab.
Seorang siswa dengan percaya diri menyampaikan bagaimana nilai “bertanggung jawab dan dapat dipercaya” diterapkan melalui tindakan sederhana seperti jujur saat berbelanja untuk orang tua. Sementara peserta lainnya menunjukkan sikap keberanian dan empati dengan menyatakan siap melaporkan tindakan perundungan di sekolah.
“Nilai-nilai kecil ini yang kelak akan membentuk karakter besar. Di masa depan, integritas akan lebih penting daripada sekadar ijazah,” ujar Fajar.
Direktur SMP Direktorat Jenderal PAUD, Dikdas, dan Dikmen, Maulani Mega Hapsari, yang turut hadir selama kegiatan, menilai bahwa kemah ini menjadi sarana konkret pembentukan karakter. Ia menyatakan bahwa seluruh aktivitas telah dirancang untuk mencerminkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan melalui Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
“Mulai dari orientasi kelompok, kegiatan rotasi, malam persahabatan, hingga aksi sosial, semuanya menjadi bagian dari proses pembiasaan yang akan terbawa ke kehidupan sehari-hari siswa,” jelas Mega.
Testimoni dari para peserta memperkuat efektivitas pendekatan ini. Seorang siswa dari Tangerang Selatan mengaku kini terbiasa bangun pagi dan rutin berolahraga. Sementara peserta dari Bogor menyatakan lebih memahami pentingnya menjaga pola makan sehat dan mulai aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Komjen (Purn.) Budi Waseso, mengapresiasi komitmen Kemendikdasmen mengembalikan posisi strategis Pramuka dalam dunia pendidikan. Menurutnya, pembentukan karakter tidak cukup hanya dilakukan melalui ceramah atau teori di kelas.
“Perkemahan ini membuktikan bahwa pembiasaan sederhana bisa mencetak generasi hebat. Pramuka adalah pendidikan karakter sejati,” kata Budi Waseso, Sabtu (26/7).
Ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda, mulai dari bahaya narkotika hingga dampak buruk teknologi digital. Menurutnya, ketahanan karakter hanya bisa dibangun melalui pengalaman langsung, dan gerakan Pramuka harus hadir sebagai benteng moral dan sosial bagi pelajar di seluruh Indonesia.
Di akhir kegiatan, Fajar kembali menyampaikan pesan kepada peserta agar menjadi agen perubahan di sekolah dan lingkungan masing-masing.
“Adik-adik adalah generasi yang akan memimpin Indonesia di tahun 2045. Tidak semua akan menjadi Presiden, tapi semua bisa menjadi manusia bermanfaat. Jadilah pemimpin yang jujur, tangguh, dan berintegritas, di manapun kalian berada,” pesannya menutup acara penutupan kemah, Sabtu sore.
Perkemahan Anak Indonesia Hebat Tahun 2025 diyakini akan menjadi model pembinaan karakter yang dapat direplikasi secara nasional. Program ini menjadi bagian penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, sebuah masa depan di mana generasi muda Indonesia tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga kuat secara moral, sosial, dan spiritual. (*)














